Bagaimana dakwah berubah di TikTok? Artikel ini membahas transformasi otoritas Islam di era media sosial. Suatu malam, saya menemukan potongan ceramah berdurasi 30 detik di TikTok. Seorang ustaz muda berbicara dengan gaya santai, diselingi musik latar yang halus dan teks yang muncul cepat di layar. Dalam hitungan jam, video itu telah ditonton ratusan ribu kali. Ribuan komentar mengalir—sebagian mengamini, sebagian mempertanyakan, sebagian lagi sekadar memberi emoji. Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: apakah ini masih dakwah, atau sudah menjadi bentuk lain dari konten digital? Dakwah, dalam pengertian klasik, selalu berkaitan dengan penyampaian pesan keagamaan—mengajak, mengingatkan, dan membimbing. Namun, dalam konteks media digital hari ini, dakwah tidak lagi berdiri di ruang yang steril. Ia masuk ke dalam ekosistem yang diatur oleh algoritma, tren, dan logika atensi. Di TikTok, pesan keagamaan harus bersaing dengan video hiburan, komedi, bahkan konten viral yang sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Artinya, agar “terlihat”, dakwah harus mengikuti ritme platform: singkat, menarik, emosional, dan mudah dibagikan. Dalam proses ini, terjadi transformasi yang tidak sederhana.Pertama, otoritas keagamaan menjadi lebih cair. Jika dahulu otoritas sering dikaitkan dengan latar belakang pendidikan, sanad keilmuan, atau institusi, kini siapa pun yang mampu menarik perhatian bisa menjadi figur yang didengar. Popularitas digital sering kali menjadi indikator baru legitimasi. Kedua, bentuk penyampaian ikut berubah. Ceramah panjang digantikan oleh potongan-potongan pendek. Argumentasi yang kompleks disederhanakan menjadi kutipan singkat. Nuansa sering kali hilang, digantikan oleh pesan yang tegas dan mudah dipahami. Ini bukan semata-mata karena pilihan individu, tetapi karena tuntutan platform itu sendiri. Namun, perubahan ini tidak harus dilihat secara pesimistis. Justru di sinilah kita melihat bagaimana Islam beradaptasi dengan konteks baru. Dakwah tidak pernah benar-benar statis; ia selalu mengikuti medium yang tersedia—dari mimbar, radio, televisi, hingga kini media sosial. Yang menarik adalah bagaimana audiens berperan aktif. Mereka tidak hanya menerima pesan, tetapi juga menafsirkan, mengomentari, dan bahkan memproduksi ulang konten tersebut. Dalam arti ini, dakwah menjadi proses yang lebih dialogis, meskipun tetap berada dalam kerangka platform yang memiliki logikanya sendiri.Pertanyaannya kemudian bukan lagi apakah TikTok merusak dakwah, tetapi bagaimana dakwah dinegosiasikan dalam ruang digital yang sangat dinamis ini. Siapa yang berbicara? Siapa yang didengar? Dan bagaimana kita memahami otoritas di tengah banjir informasi? Di era ini, mungkin kita perlu menerima bahwa dakwah bukan hanya soal isi pesan, tetapi juga soal bagaimana pesan itu beredar. Dan di situlah, antara otoritas dan popularitas, dakwah menemukan bentuk barunya.